Tidak banyak ibadah yang bisa dilihat dan langsung dikenali oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang belum pernah mempelajarinya. Tawaf adalah salah satunya. Gambar orang-orang berpakaian putih mengelilingi Ka’bah sudah terlalu sering muncul, sampai-sampai banyak yang merasa sudah cukup paham hanya dari melihat.
Padahal memahami tawaf dari gambar saja tidak cukup. Ada hal-hal yang baru terasa penting justru ketika sudah sampai di sana. Salah satunya adalah soal tawaf.
Baca Juga: Apa itu Umroh Mardud? Pelajari Sebab dan Perbedaannya dengan Makbul & Mabrur!
Banyak calon jamaah yang sudah tahu bahwa tawaf adalah bagian dari ibadah umroh dan haji. Namun tidak semua tahu bahwa tawaf tidak hanya satu jenis. Ada yang sifatnya wajib, ada yang sunnah. Ada yang jika ditinggalkan bisa membatalkan ibadah, ada yang jika tidak dilakukan pun tidak apa-apa secara hukum.
Kerancuan ini sebenarnya wajar. Dari luar, keduanya terlihat persis sama. Sama-sama mengelilingi Ka’bah, sama-sama tujuh putaran, sama-sama dimulai dari arah Hajar Aswad. Tidak ada tanda fisik yang membedakan keduanya secara kasat mata.
Yang membedakan ada di niat, waktu, kedudukan hukum, dan konsekuensi yang mengikutinya. Inilah yang justru paling penting untuk dipahami, bukan hanya oleh calon jamaah yang baru pertama kali berangkat, tetapi juga oleh mereka yang sudah pernah ke Tanah Suci sekalipun.
Supaya tidak keliru saat berada di sana, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Pengertian Tawaf Wajib dan Sunnah
Tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dari arah Hajar Aswad. Secara umum, tawaf terbagi menjadi dua: tawaf wajib dan tawaf sunnah. Keduanya memiliki tata cara yang sama, namun kedudukan hukum dan konsekuensinya berbeda.
Tawaf wajib adalah tawaf yang menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji atau umroh. Ini harus dilaksanakan sebagai syarat sahnya ibadah. Tawaf jenis ini terbagi menjadi beberapa macam, di antaranya tawaf ifadah yang dilakukan setelah wukuf di Arafah, tawaf qudum sebagai tawaf selamat datang saat tiba di Makkah, dan tawaf wada’ yang dilakukan sebelum meninggalkan Tanah Suci.
Baca Juga: Bagaimana Niat Umroh yang Benar? Simak Penjelasan Ulama di Sini!
Sementara tawaf sunnah adalah tawaf yang dilakukan di luar rangkaian ibadah wajib, murni untuk mencari pahala dan mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda bahwa tawaf mengelilingi Ka’bah seperti shalat, dan barang siapa berbicara saat tawaf hendaklah hanya berkata yang baik. Tawaf sunnah bisa dilakukan kapan saja selama berada di Masjidil Haram, tanpa terikat waktu atau tahapan ibadah tertentu.
Perbedaan Utama Antara Tawaf Sunnah dan Tawaf Wajib
Secara sekilas, keduanya terlihat sama. Sama-sama mengelilingi Ka’bah tujuh putaran, sama-sama dimulai dari Hajar Aswad. Namun jika ditelusuri lebih jauh, ada beberapa perbedaan mendasar yang penting untuk dipahami, terutama bagi jamaah yang sedang mempersiapkan diri untuk umroh atau haji.
Waktu Pelaksanaan
Tawaf sunnah tidak terikat waktu. Selama berada di Masjidil Haram, jamaah bebas melakukannya kapan saja, baik siang maupun malam, tanpa perlu menunggu momen tertentu.
Tawaf wajib sebaliknya. Ini memiliki waktu pelaksanaan yang sudah ditentukan dan mengikuti tahapan ibadah. Tawaf ifadah dilakukan setelah wukuf di Arafah, tawaf qudum dilakukan saat pertama kali tiba di Makkah, dan tawaf wada’ dilakukan tepat sebelum meninggalkan kota. Melewatkan salah satunya bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja.
Tujuan dan Makna
Tawaf sunnah dilakukan semata-mata sebagai ibadah tambahan. Tidak ada kaitannya dengan rukun haji atau umroh, tetapi pahalanya tidak bisa diremehkan. Setiap putaran dicatat sebagai kebaikan, dan kesempatan untuk memperbanyak tawaf sunnah adalah salah satu hal yang paling disayangkan jika dilewatkan saat berada di Tanah Suci.
Tawaf wajib punya makna yang lebih mengikat. Ini adalah bagian dari rukun ibadah yang harus dipenuhi agar haji atau umroh dinyatakan sah. Selesai tawaf wajib dalam umroh, jamaah harus melanjutkan dengan sa’i dan tahallul. Tidak bisa berhenti di tengah jalan.
Konsekuensi
Inilah perbedaan yang paling terasa. Jika tawaf sunnah tidak dilakukan, tidak ada konsekuensi syar’i yang mengikutinya. Jamaah hanya kehilangan kesempatan pahala tambahan.
Baca Juga: Apa Saja Didapatkan dari Paket Promo Super Hemat MIW Travel Solo?
Tapi jika tawaf wajib ditinggalkan, ibadah haji atau umroh bisa dinyatakan tidak sah. Jamaah perlu menggantinya dengan fidyah atau mengulang pelaksanaannya. Ini bukan sesuatu yang ringan, mengingat perjalanan ke Tanah Suci membutuhkan biaya dan persiapan yang tidak sedikit. Itulah mengapa memahami perbedaan ini jauh lebih penting dari sekadar pengetahuan umum.
FAQ Seputar Konten
- Apakah tawaf sunnah tetap perlu dilanjutkan dengan sa’i? Tidak perlu. Tawaf sunnah cukup ditutup dengan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Tidak ada kewajiban untuk melanjutkan dengan sa’i maupun tahallul.
- Apakah tawaf sunnah bisa dilakukan saat sedang tidak berihram? Bisa. Tawaf sunnah tidak mensyaratkan ihram. Jamaah cukup dalam keadaan suci dan menutup aurat, lalu bisa langsung melakukannya kapan saja selama berada di Masjidil Haram.
- Apa perbedaan tawaf wajib dan sunnah? Tawaf wajib adalah bagian dari rukun haji atau umroh yang menentukan keabsahan ibadah, sedangkan tawaf sunnah adalah ibadah tambahan yang dilakukan untuk memperbanyak pahala.
Kesimpulan
Tawaf wajib dan sunnah memiliki tata cara yang sama, namun kedudukannya berbeda. Tawaf wajib menentukan sah tidaknya ibadah, sementara tawaf sunnah adalah kesempatan tambahan untuk memperbanyak pahala selama berada di Tanah Suci.
Apabila Anda ingin melaksanakan umroh atau haji dengan bimbingan dari muthawif sunnah, hubungi saja Madinah Iman Wisata. Travel Umroh Solo ini sudah dipercaya oleh banyak jamaah lokal dan sudah beroperasi lebih dari 20 tahun lamanya. Percayakan perjalanan ibadah Anda bersama Madinah Iman Wisata Solo. Hubungi kami sekarang melalui WhatsApp.
