Berita & Informasi

Bolehkah Berharap Meninggal di Tanah Suci? Ini Penjelasan Ulama

andri creativism.id
13 July 2026
No Responses

Banyak umat Islam memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup di Makkah atau Madinah. Keinginan ini muncul karena kecintaan kepada dua kota suci yang menjadi pusat ibadah umat Islam. 

Namun, muncul pertanyaan penting, bolehkah berharap meninggal di Tanah Suci menurut syariat? Jawabannya adalah boleh, selama harapan tersebut tidak disertai rasa putus asa terhadap kehidupan atau keinginan mengakhiri hidup karena musibah dunia. 

Para ulama telah menjelaskan bahwa berharap wafat di tempat yang mulia berbeda dengan berharap segera meninggal karena kesulitan hidup. Bahkan, terdapat dalil yang menunjukkan adanya keutamaan wafat di Madinah. 

Karena itu, memahami penjelasan ulama menjadi penting agar keinginan tersebut tetap berada dalam koridor ajaran Islam yang benar.

Hukum Berharap Meninggal di Tanah Suci

Pertanyaan bolehkah berharap meninggal di Tanah Suci telah dijawab oleh banyak ulama. Intinya, keinginan tersebut diperbolehkan apabila didasari harapan memperoleh keberkahan tempat, bukan karena bosan menjalani kehidupan atau ingin lari dari ujian.

Dalam artikel Muslim.or.id, dijelaskan bahwa terdapat ulama yang berpendapat sunnah berdoa agar meninggal di tempat yang mulia, termasuk Tanah Suci Makkah dan Madinah. Hal ini dikuatkan dengan penjelasan Imam An-Nawawi:

يُسْتَحَبُّ طَلَبُ الْمَوْتِ فِي بَلَدٍ شَرِيفٍ

Artinya, “Disunnahkan meminta kematian di tanah yang mulia/suci.” [Al-Majmu’ 5/106]

Namun, meninggal di sini bukan berarti kematian yang diusahakan sendiri. Muslim.or.id menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh sengaja membuat dirinya sakit, mencelakakan diri, atau melakukan tindakan yang membahayakan demi meninggal di Tanah Suci. Kematian tetap berjalan sesuai takdir Allah.

Inilah yang membedakan antara dua niat yang tampak serupa, tetapi hakikatnya berbeda. Seseorang yang berkata, “Semoga Allah mewafatkanku di Madinah karena kemuliaannya,” memiliki niat yang berbeda dengan orang yang berharap mati karena sudah tidak sanggup menghadapi masalah hidup.

Harapan tersebut juga sejalan dengan rasa cinta kepada kota yang menjadi tempat hijrah Rasulullah saw. Madinah bukan sekadar kota bersejarah, tetapi juga tempat yang memiliki keutamaan khusus sebagaimana dijelaskan dalam hadis pada pembahasan berikutnya.

Bagi calon jamaah umroh maupun haji, pemahaman seperti ini penting agar doa dan harapan selama berada di Tanah Suci tetap berada dalam adab yang benar. Jamaah boleh berharap memperoleh keutamaan, tetapi tetap harus menjaga keselamatan, kesehatan, dan menyerahkan waktu wafat sepenuhnya kepada Allah.

Niat yang Harus Dijaga

Keinginan wafat di Tanah Suci hendaknya selalu dibarengi doa agar Allah memberikan husnul khatimah. Fokus seorang Muslim bukan sekadar lokasi wafatnya, tetapi bagaimana ia menghadap Allah dalam keadaan beriman dan membawa amal terbaik.

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan bolehkah berharap meninggal di Tanah Suci adalah boleh apabila niatnya mengharap keutamaan yang Allah berikan pada tempat tersebut, bukan karena putus asa terhadap kehidupan.

Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat untuk City Tour Saat Haji agar Jamaah Tetap Bugar?

Keutamaan Wafat di Madinah dan Saat Menjalankan Ibadah

Madinah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Kota ini menjadi tempat hijrah Rasulullah saw, pusat berkembangnya dakwah Islam, sekaligus lokasi makam beliau.

Rasulullah saw bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا، فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا

Artinya, “Barang siapa mampu meninggal di Madinah, maka hendaklah ia meninggal di sana. Sesungguhnya aku akan memberi syafaat bagi orang yang meninggal di sana.”

Hadits ini menunjukkan adanya keutamaan wafat di Madinah. Akan tetapi, para ulama menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh memaksakan keadaan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat hanya demi mewujudkan keinginan tersebut.

Selain itu, meninggal ketika sedang menjalankan ibadah seperti umroh atau haji juga merupakan keadaan yang sangat baik. Orang yang wafat dalam kondisi sedang menaati Allah diharapkan memperoleh akhir kehidupan yang mulia.

Meski demikian, yang paling utama tetaplah menjaga keikhlasan dalam beribadah. Jangan sampai tujuan utama berangkat ke Tanah Suci bergeser menjadi sekadar mengejar tempat wafat. 

Fokus utama seorang Muslim adalah menyempurnakan ibadah, memperbanyak taubat, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itulah banyak jamaah memilih berangkat bersama penyelenggara yang memberikan pembinaan manasik dan kajian sunnah secara rutin, seperti Madinah Iman Wisata, agar ibadah yang dijalankan tidak hanya sah, tetapi juga sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Baca juga: Keistimewaan Orang yang Meninggal di Makkah Menurut Islam

Apakah Meninggal di Tanah Suci Pasti Mati Syahid?

Masih banyak anggapan bahwa siapapun yang meninggal di Makkah atau Madinah otomatis memperoleh predikat syahid. Anggapan ini sebenarnya kurang tepat.

Syahid memiliki kriteria yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Ada syahid karena gugur di medan jihad, ada pula syahid karena sebab tertentu seperti wabah, tenggelam, tertimpa bangunan, atau penyakit tertentu sebagaimana diterangkan dalam hadis-hadis sahih.

Sementara itu, wafat di Tanah Suci memiliki keutamaan tersendiri, tetapi tidak otomatis menjadikan seseorang memperoleh status syahid.

Status syahid merupakan hak Allah untuk menetapkannya berdasarkan amal, iman, keikhlasan, dan sebab kematian seseorang. Oleh sebab itu, tidak bijak menyimpulkan bahwa semua orang yang meninggal ketika umroh atau haji pasti mati syahid.

Yang lebih penting adalah memperbanyak amal saleh selama hidup. Sebab, kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan hanya ditentukan oleh tempat wafatnya, melainkan oleh ketakwaannya.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hujuraat ayat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Karena itu, setiap Muslim hendaknya lebih fokus memperbaiki kualitas ibadah daripada sekadar mengejar predikat tertentu yang hakikatnya berada dalam ketetapan Allah.

Doa Umar bin Khattab agar Wafat di Negeri Rasulullah

Salah satu kisah yang sering dijadikan dalil mengenai bolehkah berharap meninggal di Tanah Suci adalah doa Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Beliau pernah berdoa:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ

Artinya, “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku mati syahid di jalan-Mu dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu.”

Doa ini menunjukkan bahwa berharap wafat di kota Rasulullah bukanlah sesuatu yang tercela. Bahkan, Umar memadukan dua harapan mulia sekaligus, yaitu syahid di jalan Allah dan wafat di Madinah.

Allah kemudian mengabulkan doa tersebut. Umar bin Khattab wafat setelah ditikam ketika mengimami salat Subuh di Masjid Nabawi.

Kisah ini menjadi pelajaran bahwa seorang Muslim boleh memiliki cita-cita mulia terkait akhir kehidupannya. Namun, harapan tersebut harus dibarengi amal saleh, doa yang tulus, serta usaha memperbaiki diri setiap hari.

Banyak pembimbing ibadah mengingatkan bahwa tujuan utama perjalanan ke Tanah Suci bukan mengejar kematian, melainkan memperbanyak bekal menuju kehidupan akhirat. Nilai inilah yang terus ditekankan dalam pembinaan jamaah oleh Madinah Iman Wisata, sehingga setiap perjalanan ibadah menjadi sarana memperkuat iman dan ketakwaan.

Kesimpulan

Jadi, bolehkah berharap meninggal di Tanah Suci? Jawabannya adalah boleh, selama niatnya mengharapkan keberkahan tempat yang dimuliakan Allah, bukan karena putus asa menghadapi kehidupan. Penjelasan Imam An-Nawawi, hadits tentang keutamaan Madinah, serta doa Umar bin Khattab menunjukkan bahwa harapan tersebut memiliki dasar dalam syariat. 

Meski begitu, yang paling utama tetap memperbanyak amal saleh, menjaga keikhlasan, dan memohon husnul khatimah di mana pun Allah menetapkan akhir kehidupan kita. 

Apabila Anda ingin melaksanakan umroh atau haji dengan bimbingan dari muthawif sunnah, hubungi saja Madinah Iman Wisata. Travel Umroh Solo ini sudah dipercaya oleh banyak jamaah lokal dan sudah beroperasi lebih dari 20 tahun lamanya. Percayakan perjalanan ibadah Anda bersama Madinah Iman Wisata Solo. Hubungi kami sekarang melalui WhatsApp.