Menjalankan ibadah umroh dan haji merupakan momen yang sangat istimewa bagi setiap Muslim. Saat berada di depan Ka’bah atau ketika berjalan antara Bukit Shafa dan Marwah, banyak jamaah ingin memanjatkan doa terbaik kepada Allah. Namun, tidak sedikit yang bertanya-tanya, bagaimana hukum berdoa dengan bahasa Indonesia saat tawaf dan sa’i? Apakah doa harus menggunakan bahasa Arab agar diterima?
Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama di kalangan jamaah Indonesia yang belum menguasai bahasa Arab. Sebagian bahkan khawatir ibadahnya menjadi kurang sempurna apabila berdoa dengan bahasa Indonesia. Padahal, memahami apa yang dipanjatkan dalam doa justru menjadi salah satu hal penting agar hati lebih khusyuk dan permohonan lebih sungguh-sungguh.
Bagi jamaah yang berangkat bersama Madinah Iman Wisata, pertanyaan semacam ini juga kerap dibahas saat manasik. Sebab, memahami tata cara berdoa yang benar akan membuat ibadah di Tanah Suci terasa lebih tenang dan bermakna.
Jawaban Singkat: Boleh, dengan Catatan
Jawabannya adalah boleh. Jamaah diperbolehkan berdoa menggunakan bahasa Indonesia saat tawaf maupun sa’i.
Para ulama menjelaskan bahwa ketika tawaf dan sa’i, seseorang dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa. Tidak ada bacaan doa khusus yang diwajibkan pada setiap putaran tawaf atau setiap perjalanan sa’i. Rasulullah ﷺ juga tidak mengajarkan doa-doa tertentu untuk setiap putaran. Karena itu, jamaah bebas memanjatkan doa sesuai kebutuhan dan harapannya.
Pengecualian yang paling dikenal adalah doa yang dibaca ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, yaitu:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Selain doa tersebut, jamaah dipersilakan memperbanyak doa dengan bahasa yang dipahami.
Selain saat tawaf dan sa’i, ada beberapa tempat mustajab yang sering dimanfaatkan jamaah untuk memperbanyak doa, salah satunya adalah Multazam. Jika Anda ingin mengetahui letak Multazam, keutamaannya, serta tata cara berdoa yang dianjurkan, baca juga artikel Apa itu Multazam? Pelajari Tata Cara Berdoa di Multazam yang Benar di Sini!.
Dasar Bolehnya Berdoa dengan Bahasa Indonesia
Pada dasarnya, tujuan doa adalah bermunajat kepada Allah dan menyampaikan harapan serta kebutuhan seorang hamba. Karena itu, para ulama menerangkan bahwa tidak ada ketentuan yang mewajibkan penggunaan bahasa Arab ketika berdoa saat tawaf dan sa’i.
Berdoa dengan bahasa yang dipahami justru membuat seseorang lebih menghayati isi doanya. Hati menjadi lebih hadir, permohonan lebih tulus, dan kekhusyukan lebih mudah dirasakan.
Ustadz Adi Hidayat juga menjelaskan bahwa seluruh bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan bahasa daerah, dapat digunakan untuk berdoa. Tidak ada dalil yang mewajibkan doa di luar shalat harus menggunakan bahasa Arab. Allah Maha Mengetahui seluruh bahasa dan memahami isi hati setiap hamba-Nya.
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Ustadz Abdul Somad. Beliau menerangkan bahwa berdoa kepada Allah tidak dibatasi oleh bahasa tertentu. Seseorang dapat memohon kepada Allah dengan bahasa yang paling dipahami, termasuk bahasa Indonesia atau bahasa daerah, selama isi doanya merupakan kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat.
Karena itu, jamaah tidak perlu merasa minder apabila belum hafal banyak doa berbahasa Arab. Yang terpenting adalah keikhlasan, kekhusyukan, dan keyakinan ketika berdoa.
Meski berdoa dengan bahasa yang dipahami diperbolehkan, banyak jamaah tetap ingin mempelajari dan menghafal doa-doa umroh berbahasa Arab agar lebih siap saat berada di Tanah Suci. Jika Anda termasuk salah satunya, simak panduan lengkap dalam artikel Cara Menghafal Doa-Doa Umroh dalam 2 Minggu Sebelum Keberangkatan yang berisi tips praktis agar hafalan lebih mudah, cepat, dan tidak membebani.
Dalam praktiknya, pembimbing dari Madinah Iman Wisata juga mengarahkan jamaah agar tidak memaksakan diri menghafal banyak bacaan Arab yang belum dipahami. Lebih baik memperbanyak doa yang benar-benar dimengerti sehingga hati dapat lebih fokus kepada Allah.
Pengecualian: Doa Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad
Walaupun secara umum doa boleh menggunakan bahasa apa pun, ada satu doa yang sangat dianjurkan dibaca dengan lafal Arabnya, yaitu doa diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.
Artinya
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
Doa ini merupakan doa yang secara khusus dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ ketika tawaf. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan agar lafal Arabnya tetap dibaca sebagaimana diajarkan Nabi. Setelah membacanya, jamaah tetap boleh menambahkan doa lain dengan bahasa Indonesia.
Mana yang Lebih Utama: Arab atau Indonesia?
Keduanya memiliki keutamaan masing-masing.
Jika seseorang memahami bahasa Arab dan mengetahui makna doa yang dibaca, maka membaca doa dengan bahasa Arab tentu sangat baik. Selain mengikuti lafal yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah, doa berbahasa Arab juga memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Namun, apabila seseorang belum memahami bahasa Arab, maka berdoa dengan bahasa Indonesia bisa menjadi pilihan yang lebih utama untuk menjaga kekhusyukan.
Sebab, inti dari doa bukan sekadar melafalkan kata-kata, melainkan menghadirkan hati di hadapan Allah dan menyampaikan permohonan dengan penuh pengharapan. Jangan sampai seseorang sibuk membaca doa panjang berbahasa Arab tetapi tidak mengetahui maknanya, sehingga hati justru tidak fokus saat beribadah.
Tips Praktis Berdoa Saat Tawaf dan Sa’i untuk Jamaah Indonesia
1. Perbanyak Dzikir dan Istighfar
Gunakan waktu tawaf dan sa’i untuk memperbanyak tasbih, tahmid, takbir, dan istighfar.
2. Siapkan Daftar Doa Sebelum Berangkat
Tuliskan doa-doa penting seperti doa untuk orang tua, keluarga, kesehatan, rezeki, dan kebaikan akhirat.
3. Gunakan Bahasa yang Dipahami
Tidak masalah menggunakan bahasa Indonesia. Yang terpenting adalah kekhusyukan dan kesungguhan hati.
4. Jangan Sibuk Mengejar Bacaan Tertentu
Tidak ada doa khusus pada setiap putaran tawaf dan sa’i. Fokuslah pada ibadah dan kedekatan dengan Allah.
Karena itu, jamaah yang berangkat bersama Madinah Iman Wisata biasanya dibimbing untuk lebih memahami makna doa daripada sekadar menghafal bacaan yang panjang.
FAQ
Apakah doa bahasa Indonesia saat tawaf membuat ibadah tidak sah?
Tidak. Tawaf dan sa’i tetap sah karena tidak ada syarat bahwa doa harus menggunakan bahasa Arab.
Apakah boleh menggunakan bahasa daerah?
Boleh. Bahasa Jawa, Sunda, Minang, dan bahasa daerah lainnya dapat digunakan untuk berdoa kepada Allah.
Apakah setiap putaran tawaf memiliki doa khusus?
Tidak ada hadis sahih yang mewajibkan doa tertentu pada setiap putaran tawaf. Jamaah bebas berdoa sesuai kebutuhan masing-masing.
Kesimpulan
Hukum berdoa dengan bahasa Indonesia saat tawaf dan sa’i adalah boleh. Tidak ada ketentuan yang mewajibkan penggunaan bahasa Arab dalam doa ketika tawaf dan sa’i. Bahkan, berdoa dengan bahasa yang dipahami dapat membantu menghadirkan kekhusyukan dan membuat permohonan lebih tulus.
Pengecualian yang dianjurkan tetap dibaca dengan lafal Arab adalah doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Selain itu, jamaah bebas berdoa dengan bahasa apa pun yang dipahami.
Apabila Anda ingin melaksanakan umroh atau haji dengan bimbingan dari muthawif sunnah, hubungi saja Madinah Iman Wisata. Travel Umroh Solo ini sudah dipercaya oleh banyak jamaah lokal dan sudah beroperasi lebih dari 20 tahun. Percayakan perjalanan ibadah Anda bersama Madinah Iman Wisata Solo. Hubungi kami sekarang melalui WhatsApp.
