Setiap jamaah yang pertama kali melihat Ka’bah nyaris tidak bisa langsung bergerak. Kaki berhenti, mata terpaku, dan mulut yang tadinya ingin berdoa mendadak tidak tahu harus mulai dari mana. Ada yang menangis tanpa tahu alasannya. Ada yang hanya berdiri diam sambil menatap.
Ka’bah adalah bangunan berbentuk kubus yang berdiri di tengah Masjidil Haram, Makkah. Dindingnya dilapisi kain kiswah hitam bersulam kaligrafi emas, tingginya 14 meter, dan sudah berdiri jauh sebelum peradaban manusia mencatat sejarahnya dengan rapi. Secara fisik, ukurannya tidak luar biasa besar. Namun, tidak ada yang datang ke sana untuk menilai ukurannya.
Baca Juga: Tata Cara Ziarah ke Makam Nabi Muhammad
Bagi umat Islam, Ka’bah adalah kiblat. Arah yang dituju dalam setiap salat, dari mana pun seseorang berada di seluruh penjuru bumi. Hubungan antara seorang muslim dan Ka’bah terjalin jauh sebelum ia sempat melihatnya secara langsung.
Bangunan ini sudah berganti tangan berkali-kali. Sejarah Ka’bah melewati banyak tangan, banyak zaman, dan tidak sedikit ujian.
Simak selengkapnya di bawah ini.
Siapa yang Pertama Membangun Ka’bah?
Di sinilah sejarah Ka’bah mulai menyimpan tanda tanya. Para ulama tidak sepakat dalam satu jawaban, dan perbedaan ini bukan karena kekurangan dalil, tetapi karena riwayat yang sampai kepada kita memang lebih dari satu.
Imam At-Thabari berpendapat bahwa Ka’bah dibangun oleh para malaikat jauh sebelum Adam diciptakan. Setelah Adam diturunkan ke bumi, ia diperintahkan Allah untuk thawaf di tempat yang sama. Sementara itu, Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa Nabi Adam adalah orang pertama yang membangun Ka’bah dan melakukan thawaf di sekitarnya. Namun beliau juga mencatat pendapat bahwa para malaikat telah membangunnya terlebih dahulu ketika bumi masih berupa air.
Baca Juga: Bagaimana Niat Umroh yang Benar? Simak Penjelasan Ulama di Sini!
Ibnu Abbas merangkum keduanya dengan sederhana: Adam yang pertama membangun, Ibrahim yang kemudian meninggikannya kembali.
Ka’bah di Masa Nabi Ibrahim dan Ismail AS
Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk membangun kembali Ka’bah, beliau mendatangi lokasinya bersama putranya, Ismail. Angin telah menyingkap fondasi lama, dan keduanya mulai membangun di atas bekas pondasi yang sama. Bukan di tempat baru, tetapi di tempat yang persis sama dengan bangunan sebelumnya.
Momen ini diabadikan dalam Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 127, yang menggambarkan Ibrahim dan Ismail meninggikan fondasi Baitullah sambil berdoa agar amal mereka diterima Allah. Doa dua nabi di tengah pembangunan rumah-Nya, gambaran yang sulit dibayangkan tanpa merinding.
Perjalanan Ka’bah Setelah Nabi Ibrahim
Sepeninggal Nabi Ibrahim dan Ismail AS, pengelolaan Ka’bah jatuh ke tangan Bani Jurhum. Awalnya mereka menjaga dengan baik, tetapi lama-kelamaan mereka berlaku sewenang-wenang dan berbuat zalim. Puncaknya, saat konflik dengan Bani Khuza’a, mereka bahkan mengubur sumur Zamzam sebelum pergi. Allah kemudian menjadikan Bani Khuza’a sebagai pengganti mereka.
Di awal kepemimpinannya, Bani Khuza’a masih mengesakan Allah. Namun tidak lama berselang, mereka menempatkan berhala bernama Hubal di dalam Ka’bah. Dari satu berhala, keadaan semakin buruk hingga memasuki masa Jahiliyah. Ka’bah yang seharusnya menjadi rumah Allah dipenuhi 360 berhala, dan ritual thawaf dilakukan dalam keadaan telanjang.
Renovasi Ka’bah oleh Suku Quraisy Sebelum Islam
Lima tahun sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, suku Quraisy merenovasi Ka’bah. Ada satu hal yang mereka pegang teguh sejak awal: dana yang digunakan harus berasal dari sumber yang halal. Tidak ada harta hasil riba, hasil merampok, atau hasil transaksi yang meragukan yang boleh masuk ke dalam pembangunan ini.
Namun, dana halal yang terkumpul ternyata tidak mencukupi. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk memperkecil ukuran Ka’bah dan meninggalkan sebagian pondasi asli Nabi Ibrahim di luar bangunan, yang kemudian dikenal sebagai Hijr Ismail. Pintu Ka’bah juga ditinggikan dari permukaan tanah, bukan lagi sejajar dengan lantai, agar mereka bisa mengontrol siapa yang boleh masuk.
Ka’bah di Era Islam Hingga Kini
Ketika Rasulullah SAW memasuki Makkah pada peristiwa Fathul Makkah, salah satu langkah pertama yang beliau lakukan adalah membersihkan Ka’bah dari seluruh berhala yang memenuhinya. Rumah Allah dikembalikan kepada fungsi aslinya.
Setelah itu, Ka’bah terus mengalami renovasi di berbagai era. Dinasti Utsmaniyah melakukan beberapa kali perbaikan, termasuk setelah banjir besar yang melanda Makkah pada 1039 H dan meruntuhkan sebagian dinding Ka’bah. Sultan Murad Khan memimpin pembangunan ulang yang menjadi dasar struktur Ka’bah sebagaimana yang kita lihat hari ini.
Baca Juga: Syarat dan Langkah Mendaftar Haji Tours
Renovasi besar terakhir berlangsung antara Mei hingga Oktober 1996 di bawah pemerintahan Arab Saudi. Hampir seluruh material bangunan diganti, kecuali batu-batunya yang tetap dipertahankan. Struktur luar boleh berubah, tetapi batu tetap menjadi saksi bisu dari seluruh sejarah Ka’bah yang panjang.
FAQ Seputar Ka’bah
- Apakah Ka’bah pernah mengalami kerusakan atau perubahan bentuk sepanjang sejarahnya? Beberapa kali. Mulai dari renovasi suku Quraisy sebelum Islam, banjir besar di masa Dinasti Utsmaniyah, hingga pembaruan besar-besaran pada 1996. Struktur berubah, tetapi batu-batunya tetap dipertahankan.
- Mengapa Ka’bah ditutup kain kiswah berwarna hitam? Kiswah hitam sudah menjadi tradisi sejak lama sebagai bentuk penghormatan dan penjagaan terhadap dinding Ka’bah. Kain ini diganti setiap tahun dan dibuat dari sutra pilihan yang dihiasi kaligrafi ayat Al-Qur’an dengan benang emas.
- Apa yang dimaksud dengan sejarah Ka’bah yang menyebut Hijr Ismail berada di luar bangunan? Hijr Ismail adalah bagian dari pondasi asli Ka’bah yang ditinggalkan di luar saat renovasi suku Quraisy karena keterbatasan dana. Secara hukum, area ini masih dianggap bagian dari Ka’bah.
Kesimpulan
Sejarah Ka’bah bukan cerita satu masa. Dari masa para nabi, suku-suku Arab, hingga dinasti besar, bangunan ini sudah menyaksikan begitu banyak peristiwa yang datang dan pergi. Pengelolanya berganti, zamannya berubah, tetapi Ka’bah tetap berdiri di titik yang sama. Menjadi pusat dari miliaran langkah manusia yang datang dari penjuru dunia dengan satu tujuan yang sama.
Apabila Anda ingin melaksanakan umroh atau haji dengan bimbingan dari muthawif sunnah, hubungi saja Madinah Iman Wisata. Travel Umroh Solo ini sudah dipercaya oleh banyak jamaah lokal dan sudah beroperasi lebih dari 20 tahun lamanya. Percayakan perjalanan ibadah Anda bersama Madinah Iman Wisata Solo. Hubungi kami sekarang melalui WhatsApp.
